SCREENING HIV

MASALAH ETIK DAN PENYELESAIANNYA DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KEBIDANAN
“ SCREENING HIV”
Mata kuliah : Mutu layanan kebidanan dan kebijakan kesehatan



 


Disusun Oleh :
Kelompok 2
1.      Listiana Dia Ayu Sholihah      (16140123)
2.      Hemmy Setya Jati                   (16140128)
3.      Atika Nurindasari                   (13150021)
















Universitas Respati Yogyakarta
Fakultas Ilmu Kesehatan
Program Studi D-IV Bidan Pendidik
Tahun 2017/2018


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Epidemi AIDS di Indonesia sudah berlangsung hampir 20 tahun namun diperkirakan masih akan berlangsung terus dan memberikan dampak yang tidak mudah diatasi.
Menurut estimasi Nasional tahun 2006 di Indonesia terdapat 169.000 sampai 216.000 orang yang tertular HIV, dan akan menjadi satu juta orang dalam 10 tahun jika tidak melakukan upaya penanggulangan yang serius serta didukung oleh semua pihak (Komisi Penanggulan AIDS, 2006).
Sampai saat ini belum ada vaksin yang dapat melawan virus tersebut. Para ahli berusaha mendapatkan obat untuk mengatasi AIDS, dan obat itu disebut sebagai Antiretroviral Agents (ARV). Ternyata obat ini tidak dapat menyembuhkan AIDS, hanya dapat memperlambat reproduksi HIV pada tahap awal. (Taylor, 2006).
Peningkatan jumlah kasus HIV yang cukup signifikan pada beberapa tahun terakhir ini menuntut penanganan yang cepat dari beberapa aspek secara simultan. Peningkatan akurasi sistem pendeteksi HIV merupakan faktor penting dalam penentuan pengobatan pasien dan pencegahan penyebaran HIV melalui skrining darah. Tes ELISA adalah sistem diagnostik yang saat ini banyak digunakan untuk skrining selain rapid test. Sistem ini adalah sistem yang paling mudah dan harganya terjangkau untuk tes skrining meskipun masih banyak kekurangannya. Sistem ini mengalami penyempurnaan dari ELISA generasi I, II, III dari tahun ke tahun dan yang terakhir adalah generasi keempat. ELISA generasi IV menggabungkan deteksi antigen dan antibodi HIV secara bersamaan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan orang dengan HIV/AIDS(ODHA) bukanlah merupakan individu yang menakutkan bagi lingkungannya. Mereka hanya sebagian individu yang terserang virus dan kehilangan sebagian sistem kekebalan tubuhnya. ODHA bukan berarti mereka tidak dapat berkembang dan tidak mampu hidup dalam lingkungan masyarakat. Untuk hidup mereka sangat membutuhkan dukungan sosial dari keluarga, masyarakat maupun lingkungan sekitarnya karena mereka merupakan sekelompok individu yang tidak seperti orang sehat pada umumnya.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu SCREENING HIV?
2.      Kenapa masalah screening HIV itu penting serta dilema dan etiknya?










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori HIV
ODHA adalah singkatan dari Orang Dengan HIV/AIDS, sebagai pengganti istilah penderita yang mengarah pada pengertian bahwa orang tersebut sudah secara positif didiagnosa terinfeksi HIV. HIV adalah kepanjangan dari human immunodeficiency virus, suatu virus yang menyerang kekebalan tubuh, yaitu suatu sistem tubuh yang secara alamiah berfungsi melawan penyakit dan infeksi.Virus HIV yang menyebabkan AIDS ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Yang dimaksud dengan sistem kekebalan adalah suatu sistem dalam tubuh yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari masuknya bakteri atau virus yang bertujuan menyerang sel, menyerang pertahan tubuh.

Resiko tinggi
1.      Homoseksual dan biseksual
2.      Pengguna narkoba suntik (IDU) yang berbagi jarum
3.      Pasangan seks orang dengan resiko tinggi
4.      Bayi yg lahir dari ibu HIV, terutama yang tanpa terapi
5.      Penerima transfusi darah terutama di negara yang tidak ada alat skrining
Resiko Rendah
1.      Pekerja kesehatan termasuk perawat, dokter, dokter gigi danpekerja laboratorium

Proses Perkembangan Virus HIV
Proses perkembangan virus HIV dalam tubuh. Proses tersebut menurut Kaplan (1993); Sarafino (2006) adalah sebagai berikut:
1.      Munculnya tanda-tanda infeksi primer HIV akut (acut HIV infection).
2.      Penurunan sistem kekebalan
3.      Gejala yang lebih berat
Reaksi terhadap kondisi terpapar HIV/AIDSKubler-Ross (dalam Sarafino, 2006) melakukan wawancara terhadap 2000 individu yang mengalami teminal illnes
dan mengatakan bahwa penyesuaian individu biasanya mengikuti pola-pola yang dapat diprediksi dalam 5 tahapan yang tersusun secara hirarkhi. Tahapan tersebut
adalah:
1.      Denial
Reaksi pertama untuk prognasa yang mengarah ke kematian melibatkan perasaan menolak mempercayainya sebagai suatu kebenaran.
2.      Anger
Penolakan akan segera menghilang dan muncul perasaan marah, dengan reaksi kemarahan yang tertuju pada orang-orang yang ada disekitarnya saat itu.
3.      Bargaining
Pada tahapan ini, orang tersebut berusaha mengubah kondisinya dengan melakukan tawar menawar atau berusaha untuk bernegosiasi dengan tuhan, misalnya.


4.      Depression
Perasaan depresi muncul ketika upaya negosiasi tidak menolong dan orang tersebut merasa sudah tidak ada waktu untuk peluang lagi serta tidak berdaya.
5.      Acceptance
Orang dengan kesempatan hidup yang tidak banyak lagi akan mencapai penerimaan ini setelah tidak lagi mengalami depresi, teapi lebih merasa tenang dan siap menghadapi kematian.

HIVdapat ditularkan dari ibu ke bayinya dengan tiga cara yaitu di dalam uterus (lewat-plasenta) sewaktu persalinan atau melalui air susu ibu. Pada bayi yang menyusui kira-kira separuhnya transmisi terjadi sewaktu sekitar persalinan, sepertiganya melalui menyusui ibu dan sebagian kecil di dalam uterus. Bayi terinfeksi yang tidak disusui ibunya, kira-kira dua pertiga dari transmisi terjadi sewaktu atau dekat dengan persalinan dan sepertiganya di dalam uterus.
1.      Kehamilan
Kehamilan bisa berbahaya bagi wanita dengan HIV atau AIDS selama persalinan dan melahirkan. Ibu sering akan mengalami masalah-masalah sebagai berikut :
1)      Keguguran
2)      Demam, infeksi dan kesehatan menurun.
3)      Infeksi serius setelah melahirkan, yang sukar untuk dirawat dan mungkin mengancam iwa ibu.
2.      Melahirkan
Setelah melahirkan cucilah alat genetalia 2 kali sehari dengan sabun dan air bersih sehingga terlindungi dari infeksi.
3.      Menyusui
Infeksi HIV kadang-kadang ditularkan ke bayi melalui air susu ibu (ASI). Saat ini belum diketahui dengan pasti frekuensi kejadian seperti ini atau mengapa hanya terjadi pada beberapa bayi tertentu tetapi tidak pada bayi yang lain. Di ASI terdapat lebih banyak virus HIV pada ibu-ibu yang baru saja terkena infeksi dan ibu-ibu yang telah memperlihatkan tanda-tanda penyakit AIDS.
Setelah 6 bulan, sewaktu bayi menjadi lebih kuat dan besar, bahaya diare dan infeksi menjadi lebih baik. ASI dapat diganti dengan susu lain dan memberikan makanan tambahan makanan. Dengan cara ini bayi akan mendapat manfaat ASI dengan resiko lebih kecil untuk terkena HIV.

B.     Pengobatan terhadap HIV
Menurut Sarafino (2006), sebagaian besar orang denga HIV/AIDS yang mengalami
lemahnya sistem kekebalan tubuh dan opportunistic infection, dapat ditangani efektif secara medis. Tetapi kadang kala orang yang terkena HIV/AIDS menjadi hipersensitif atau alergi terhadap pengobatan, dan hingga saat ini tidak ada terapi yang memungkinkan tubuhnya akan mampu mentolerir virus tersebut. Jika tidak ditangani, opportunistic infection ini dapat
menyebabkan kematian kira-kira 3 tahun setelah didiagnosa mengalami AIDS.
Menurut Gavze (dalam Sarafino, 2006) ada sebagian kecil pasien yang dapat bertahan lebih dari 3 tahun, dapat hidup tetap aktif setelah beberapa tahun didiagnosa, karena adanya beberapa perbedaan biologis dan psikososial dari masing-masing pasien. Hal ini diperkuat oleh pendapat Cole & Kemeny (dalam Sarafino, 2006), bahwa orang dengan HIV yang sangat reaktif terhadap stress dan tidak dapat melakukan coping dengan benar, memperlihatkan fungsi imun/kekebalan tubuh yang sangat rendah dan progresivitas penyakit yang sangat cepat, dibandingkan dengan yang lainnya.
Penanganan utama terhadap AIDS melalui pengobatan yang disebut sebagai antiretroviral agents. Di pertengahan tahun 1980-an, obat utama bagi AIDS adalah AZT (azidothymidine) yang berfungsi untuk memperlambat reproduksi HIV pada tahapan awal. Selanjutnya dipertengahan tahun 1990-an berkembang obat anti-retroviral baru yang disebut sebagai
protease inhibitors, yang juga berfungsi untuk menangani reproduksi HIV dan secara dramatis mengurangi jumlah virus tersebut dalam banyak inveksi HIV yang dialami, tetapi tidak semuanya. (Sarafino, 2006). Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa anti-retroviral adalah suatu obat yang dapat digunakan untuk mencegah reproduksi retrovirus, yaitu virus yang terdapat pada HIV.
Obat ini tidak untuk mencegah penyebaran HIV dari orang yang terinfeksi ke orang lain, tidak untuk menyembuhkan infeksi HIV dan juga tidak berfungsi untuk membunuh virus (agar tidak berkembang menjadi AIDS karena jika hal ini terjadi maka akan membuat kerusakan pada sel tubuh yang terkena infeksi virus tersebut).
Antiretroviral digunakan untuk memblokir atau menghambat proses reproduksi virus, membantu mempertahankan jumlah minimal virus di dalam tubuh dan memperlambat kerusakan sistem kekebalan sehinga orang yang terinfeksi HIV dapat merasa lebih baik/nyaman dan bisa menjalani kehidupan normal.

C.    Dilihat dari delima etiknya :
1.      Dilihat dari segi medis
Dalam perspektif medis kegunaan dari rekam medik yang paling utama adalah bisa dijadikan alat komunikasi yang paling efektif antar tenaga medis dalam menentukan suatu diagnosis atau terapi lanjutan untuk tiap-tiap pasien.
Menurut pasal 48 UU No 29/2004 tentang praktek kedokteran menyatakan bahwa rahasia kedokteran yaitu rekam medik dapat dibuka hanya untuk kepentingan pasien sendiri, permintaan aparat hukum dalam rangka menegakkan hukum, atas permintaan pasien sendiri atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan.
Namun yang menjadi delima disini adalah antara etika dokter dalam menjaga kerahasiaan pasiennya seperti pada KODEKI tahun 2012 pasal 16 yang berbunyi “setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia”. Dengan pasal 57 UU No 36 tahun 2009 mengenai perlindungan masyarakat dari penyakit menular dan wabah seperti HIV/AIDS yang cukup tinggi angka kejadiannya dan juga sering kali terjadi delima etik antara dokter dan pelayanan kesehatan. Pada satu sisi dokter ingin menghargai hak otonomi pasien jika pasien tidak ingin orang banyak yang tau mengenai penyakitnya dengan alasan takut dikucilkan oleh masyarakat atau dijauhi oleh keluarganya. Namun disisi lain faktor pekerjaan dan lingkungan yang mendukung sekali penyebaran penyakit tersebut bisa menjadi pertimbangan apakah kasus ini harus tetap dirahasiakan atau perlu edukasi lebih lanjut kepada pasien akan bahayanya penyakit ini kalau sampai tidak diberitahu kekerabat dekatnya atau bahkan keluarganya karena sifatnya yang sangat menular sehingga dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat. Dokter harus lebih bijak dalam menentukan dan menilai sikap dari pasien akan tiap penyakitnya. Apakah ini hanya karena keegoisan pasien semata atau memang banyak dampak yang akan terjadi jika sampai rahasia medis pasien tersebut terbongkar baik secara ekonomi, moral, ataupun psikis pasien.
2.      Dilihat dari segi agama
Rekam medik merupakan salah satu rahasia medis dimana tanggung jawab dokter,perawat ataupun elayan kesehatan untuk menyimpan kerahasiaan tersebut. Memang fisik dari rekam medic merupakan milik dari tiap pelayanan kesehatan, namun isi dari rekam medic adalah hak pasien dan murni milik pasien.
Rekam medic yang akan dibahas kali ini jelas sangat bertentangan dalam pandangan islam. Hal ini sama saja mempublikasikan dan membuka rahasia bahkan aib seseorang ke khalayak umum. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya rekam medic bukan hanya sekedar tulisan dan informasi mengenai penyakit seseorang, namun jauh lebih penting dan rahasia dari pada itu. Beberapa penyakit bahkan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang baik dilingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja ataupun hubungan dengan kerabat dekat jika sampai diketahui oleh orang lain.jika itu sampai terjadi maka seorang dokter ataupun pelayanan kesehatan yang melakukan hal tersebut termasuk tindakan khianat atau tidak amanah.
3.      Dilihat dari segi sosial ekonomi
Kehilangan pekerjaan, tidak banyak lapangan pekerjaan yang khusus dibuka untuk penderita HIV, penyakit ini masih dianggap sebagai penyakit yang mudah menular lewat udara atau proses yang lain, selain itu, penderita tidak mudah mendapatkan pekerjaan karena adanya test kesehatan.
Selain itu, akibat dari HIV itu sendiri terjadi bukan hanya semata-mata dikarenakan karena jumlah orang yang terinfeksi HIV tinggi, tetapi juga karena orang yang terinfeksi kebanyakan berada pada usia yang produktif yaitu antara 15-40 tahun, dalam rentan usia yang produktif tersebut, tidak dapat melaksanakan fungsinya untuk mencari nafkah, membesarkan anak, memberikan pendidikan terhadap anak, dll. Dampak sosial ini tidak hanya terjadi pada saat orang yang terinfeksi HIV berupa kehilangan pekerjaan, tetapi juga mempunyai dampak ekonomi karena memerlukan biaya perawatan dan biaya pengobatan yang cukup besar. Demikian uga untuk masa yang akan datang dampak ini akan terasa pada generasi penerus yakni akan terjadi kemiskinan yang lebih berat bagi keluarga maupun bagi Negara.

D.    Tanggapan kelompok terhadap masalah yang dikaitkan dengan 7 kode etik kebidanan
jika dikaitkan dengan 7 kode etik kebidanan, yaitu kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat, bahwa peran bidan dalam memberikan asuhan pada pasien HIV secara komprehensif dan berkesinambungan, sesuai dengan kepmenkes No.900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan, bahwa bidan berperan dalam kesehatan reproduksi dan penanggulangan IMS termasuk HIV, yaitu :
1.      Pemberi pelayanan kepada ibu masa antenatal, persalinan dan masa nifas
2.      Keluarga berencana
3.      Pelayanan kesehatan terhadap reproduksi remaja yaitu adanya deteksi dini seperti merujuk dan konselor HIV.
Kemudian dilihat dari kewajiban bidan terhadap tugasnya yaitu sebagai bidan pendidik dan dapat juga menjadi pelaksana, bidan memiliki ruang lingkup pelayanan yang bersifat menyeluruh mulai dari remaja, keluarga berencana, ibu hamil ibu bersalin,ibu nifas, bayi, balita, dan anak usia prasekolah serta masa menopause. Bidan dapat memberikan informasi dan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi remaja dan sebagainya, pemberian pendidikan dapat dilakukan bidan dengan masuk ke perkumpulan yang telah dibentuk dan diikuti oleh para remaja dan dewasa muda. Bidan dapat memberikan penyuluhan-penyuluhan terkait HIV atau AIDS. Dengan adanya pertemuan di instansi-instansi yang telah dibentuk atau melalui penyuluhan-penyuluhan dapat meberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai HIV dan AIDS, tanda geala,, pencegahan, penularan, penatalaksanaan HIV dan AIDS serta informasi kesehatan yang lainnya. Selain itu bidan uga bisa memberikan pendidikan kesehatan reproduksi melalui PKK (pemberdayaan kesejahteraan keluarga).

E.     Solusi atau ide kelompok terhadap masalah.
1.      Dari segi kewajiban bidan terhadap klien atau masyarakat
Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan melindungi serta menaga sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas dan pengabdiannya.
Peran bidan lebih diarahkan kepada upaya pencegahan yang dilakukan melalui skrening HIV/AIDS, bidan juga dapat dibantu oleh organisasi PKK dalam deteksi dini untuk mencegah meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas dari infeksi HIV. Ada beberapa peran bidan yaitu seperti memberi contoh sikap yang baik pada masyarakat, bisa bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam pelaksanaan penyuluhan pada masyarakat. Bidan dapat berperan aktif dan menyatu bersama masyarakat dengan memberikan penyuluhan dan pendidikan kesehatan terkait penyakit HIV yang sedang merajalela saat ini.
2.      Dari segi kewajiban bidan terhadap tugasnya.
Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan yang terbaik terhadap klien, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat. Dalam tugasnya tersebut ada beberapa peran yang harus dilakukan oleh bidan :
1)      Gunakan selalu arum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan.
2)      Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman artinya hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan penularan HIV.
3)      Memberitahu ibu hamil jika ibu hamil tersebut dalam keadaan HIV positif, maka sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.
3.      Dari segi kewajiban bidan teerhadap diri sendiri.
Setiap bidan harus memelihara kesehatan agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik.
Bidan harus memerhatikan kesehatan perorangan, memerhatikan kesehatan lingkungan. Karena dalam masalah ini, bidan lebih aktif berperan seperti memberikan penyuluhan tentang HIV.






BAB III
PENUTUPAN
A.    Kesimpulan
HIV adalah kepanjangan dari human immunodeficiency virus, suatu virus yang menyerang kekebalan tubuh, yaitu suatu sistem tubuh yang secara alamiah berfungsi melawan penyakit dan infeksi.Virus HIV yang menyebabkan AIDS ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Yang dimaksud dengan sistem kekebalan adalah suatu sistem dalam tubuh yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari masuknya bakteri atau virus yang bertujuan menyerang sel, menyerang pertahan tubuh.
HIVdapat ditularkan dari ibu ke bayinya dengan tiga cara yaitu di dalam uterus (lewat-plasenta) sewaktu persalinan atau melalui air susu ibu.

B.     Saran
1.      Untuk Masyarakat
Sebaiknya lebih menambah informasi mengenai penyakit HIV/AIDS sehingga keluarga serta lingkungan aman dari kemungkinan terjangkit penyakit ini.
2.      Untuk Mahasiswa
Sebaiknya kita sebagai generasi penerus dapat menjaga diri, dan menghindari perbuatan yang nantinya kita menjadi orang yang beresiko terserang virus HIV.
3.      Untuk Institusi
Seharusnya mengadakan pembelajaran ataupun seminar mengenai HIV/AIDS sehingga kita mendapat informasi yang penting tentang HIV/AIDS.
4.      Untuk tenaga kesehatan
Diharapkan dapat peka mengenali jenis penyakit ini dan merencanakan tindakan yang tepat untuk menangani penyakit ini.





















DAFTAR PUSTAKA
Apetrei C, Loussert-Aj,aka I, Descamp SD, Damond F, saragosti S, Brun-vezinet F, simon F. Lack of screening test sensitivity during HIV-I non-subtype B seroconversion. AIDS 1996;14:57-60
Tapia N, Franco S, puig-Basagoiti F, Menendez C, Alonso PL, Mshinda H, clotet B, Saiz JC, and Immunodeficiency virus type I subtypes A through G. J virol 2000;74:3740-3751.
Baron, R.A & Byne. (1991). Sosial Psychology:UnderstandingHuman Interaction. 6th. USA:Allyn & Bacon
UNAIDS. (2004). Hidup Bersama HIV/AIDS.Jakarta.
Yayasan spiritia, (2006). Lembar Informasi tentang HIV/AIDS untuk ODHA. Jakarta:Yayasan Spiritia
Stewart GJ. 1997, mananging HIV. Sydney: MJ,A Published
Widyastuti, yani, dkk. 2009. Kesehatan reproduksi. Yogyakarta:Fitramaya.

Komentar